Keterpaksaan Cinta
Keterpaksaan Cinta
Ternyata benar, di cintai itu selalu lebih membahagiakan dari sekadar mencintai, memang tak ada yang lebih indah saat Tuhan mengizinkan kita bisa hidup bersama dengan seorang yang kita cintai. Namun kuatkah hati saat yang kau cintai namun dia tak mencintaimu.
Kini aku harus meluaskan sabarku, dengan seluas luasnya, karena yang kini hidup bersamaku dan aku cintai ternyata tak secuil pun mencintaiku. Terkadang aku tak habis pikir, kenapa dia tega tak mencintai pasangannya, pasangan yang sudah jelas sah menjadi istrinya.
***
Aku baru menyadari ini setelah beberapa bulan pernikahanku dengannya. Dia baik, lembut, tak pernah berkata kasar kepadaku, tapi sikap acuh tak acuh adalah sikapnya kepadaku, padahal dengan keluarga yang lain atau dengan teman-temannya dia selalu bersikap hangat.
***
Awal ceritaku dengannya, dia adalah kakak kelasku sewaktu SMA dulu, kedekatan kita berawal dari reuni alumni beberapa angkatan. Kita mengobrol biasa layaknya teman yang sudah lama tak mengobrol, setelah itu komunikasi kita menjadi sering, kedekatan kita menjadi semakin dekat. Ada banyak hal yang membuat kita semakin cocok.
***
Sampai pada akhirnya dia mengutarakan keseriusannya kepadaku, aku yang masih semester 3 sebenarnya belum terpikirkan untuk menikah, tapi aku rasa dia lelaki yang baik untuk aku jadikan suami. Kedua keluarga kita pun sama-sama setuju dan mendukung.
***
Pernikahan pun berlangsung, aku merasakan haru yang luar biasa, bahagia yang tak terkira, aku berterima kasih kepadanya karena dia tak membuat aku menunggu lama untuk sampai ke ikatan yang halal ini.
***
Namun pernikahan bukanlah hal yang mudah memang, dua insan yang berbeda harus hidup bersama sama, terkadang banyak perbedaan di antara kami, tapi kami selalu bisa menyikapinya
***
Seiring berjalannya waktu, dia semakin menunjukkan sikap cueknya, namun dia baik, selalu berkata lembut kepadaku, walau saat aku berbuat salah pun dia tak pernah kasar atau pun marah besar. Tapi sikap cueknya kadang membuatku sedikit bertanya tanya, walau aku menganggap kalau sikapnya itu mungkin karena banyaknya pekerjaan yang dia pikirkan. Aku mencoba memakluminya.
***
Sampai suatu saat aku merasa benar-benar kecewa karena aku merasa dia semakin tidak peduli kepadaku. Akhirnya terkuak sudah kalau dia tidak mencintaiku.
Aku tak perlu sibuk mencari tahu kebenarannya, Maha baiknya Allah kepadaku yang telah menggerakkan hatinya untuk berkata jujur.
“Iya, aku memang tidak mencintaimu.”
Bak di sambar petir, pernyataannya benar-benar merobek hatiku.
“Waktu itu aku merasa sakit hati, saat wanita yang aku cintai pergi untuk melanjutkan studinya di luar negeri dan dia menolak untuk aku nikahi, padahal kami sudah sangat lama dekat.” Dia melanjutkan pernyataannya.
“Jadi kau hanya menjadikanku pelampiasan? “ Tanyaku dengan suasana hati yang tak menentu.
“Aku ingin melupakan dia, seorang teman menyarankanku untuk membuka hati kepada sosok yang baru, dan aku mencoba itu. Ada kamu, sosok yang baik, maka aku memilih kamu.” Ujarnya dengan ekspresi rasa bersalah.
“Aku paham apa yang terjadi kepadamu, aku juga paham kenapa kau belum bisa mencintaiku. Karena memang lelaki itu sulit dalam urusan melupakan, tidak seperti wanita yang mudah jatuh cinta pada sosok yang baru, wanita itu perasa. Sedangkan lelaki tidak mudah melupakan, apalagi cintanya kepada yang dulu sangat besar.” Aku mencoba memahaminya walaupun hati terasa tersayat.
“Aku minta maaf, aku sudah menyakiti kamu, jujur aku pun tak mau dan tak meminta semua ini terjadi. Aku pikir setelah aku menikahi kamu, aku bisa melupakan dia dan bahagia bersamamu, bukankah obat patah hati yang paling mujarab adalah dengan jatuh cinta lagi.” Lanjutnya sambil menggenggam tanganku.
“Kamu tahu, saat kau berkata ingin menikahi aku, awalnya aku tidak mencintai kamu, tapi keluarga setuju dan mendukung. Jadi aku mencoba menerima dan menjalaninya dengan ikhlas. Bagiku mencintai orang yang menikahi kita adalah kewajiban, cinta yang bukan hanya sekadar kata, tapi aku buktikan dengan amal nyata.” Jelasku sambil menatap matanya.
“Aku ikhlas cuti kuliah, hanya untuk ikut merantau denganmu, dan kau tahu, ini sangat-sangat berat untuk aku. Aku mempunyai cita-cita yang tinggi, aku selalu berusaha sungguh-sungguh dalam menjalani kuliah, bahkan aku pun berharap setelah lulus dari sini aku ingin melanjutkan studiku ke luar negeri. Tapi demi kamu, aku ikhlas mengubur sejenak cita citaku, sampai nanti aku berharap kamu bisa benar-benar mengizinkan aku untuk kuliah kembali.” Lanjutku yang sudah benar-benar merasa kecewa.
***
Aku hanya bisa bersabar dan memperbanyak doa. Mempertahankan pernikahan adalah hal yang harus aku usahakan, memang di rasa menyakitkan. Tapi aku paham sebenarnya dia adalah lelaki yang baik dan dia tidak meminta semua ini terjadi, ini memang kekeliruan dia, atau memang ini ujian bagi rumah tangga kami. Semoga aku bisa menghadapinya, dan dia bisa mencintai aku, pula bertanggung jawab, serta menjadi imam yang mampu menuntunku menjadi lebih baik, semoga saja.

Mantap kak #semangat
BalasHapuswuhuuu dalem sekali nih hehe
BalasHapusDalem bgd ka...
BalasHapusBaper masa 😳
BalasHapusKeep posting kak 💪
so sad...
BalasHapuscakep kak tulisanya
Bagus tulisannya ^^
BalasHapusBagus, semangat menulis ya..
BalasHapusGimana ya caranya bikin cerita fiksi
BalasHapusCinta bertepuk sebelah tangan ðŸ˜
BalasHapuskak ini beneran? sedihnyaa.. setelah baca jadi ada rasa takut melangkah ke arah lebih serius kak, T.T Allah Maha Membolak balikkan hati, semoga sll dikuatkan yaaa... Semoga inilah versi Habibie dalam hidup kakak, semoga selalu dianugerahi ber-ton ton kesabaran aamiin.
BalasHapus