Mencari Ketenangan
Pagi menyingsing aku harus segera bergegas menggapai asa, dengan sepeda motor sang warisan dari bapa unntukku, aku menyusuri jalan demi jalan, jalan raya yang hampir setiap hari aku lewati, dalam hati aku bergumam "Ah membosankan, lagi lagi aku harus melewati jalan ini", sepeda motorku tetap melaju, sesekali terhambat oleh kemacetan, kemacetan yang menjadi pertanda bahwa banyak orang juga yang sedang melakukan perjalanan, entah ada yang berangkat ke sekolah, kampus, atau ketempat kerja sepertiku.
Aku adalah seorang lelaki dari keluarga sederhana, aku seorang anak bungsu dari en am bersaudara, orang tuaku masih lengkap namun mereka sudah memasuki masa tua.
Hari hari terasa penat, pekerjaanku terasa membosankan, pulang kerumah kulihat tumpukkan buku di lemari yang seakan melambai meminta untuk aku baca, memang beberapa hari ini aku sedang malas dengan hal hal membaca, entah kenapa, padahal membaca dan menulis adalah salah satu hobiku.
Malam menyapa bumi, sudah beberapa hari ini kurasakan resah yang begitu dahsyat, ada apa denganku, lagi lagi aku jauh dari ketenangan. Aku termenung, kemana aku harus mencari ketenangan itu, akankah aku harus pergi ke tepian sungai dan berharap dengan melihat aliran air yang mengalir hatiku bisa sedikit tenang, atau aku harus pergi ke belakang rumah dan melihat hamparan sawah yang hijau, berharap dengan melihat hamparannya yang indah bisa sedikit hilang keresahanku, atau mungkin aku harus mendaki ke puncak gunung agar dengan melihat luasnya bumi aku menjadi sedikit terhibur. Lama aku termenung.
Kemudian aku coba mainkan handphone berselancar di media sosial, status demi status yang aku lihat bermacam macam, ada yang memposting motivasi, selfi dan ada juga curhat mengenai cinta, tapi ada satu postingan yang membuat hatiku terenyuh, status yang sudah banyak di share, tentang seseorang yang mempunyai kelainan fisik, kakinya sulit untuk berjalan, penglihatannya tak senormal kita, namun masyaAllah dia hafal qur'an 30 juz, aku merasa takjub namun merasa tertampar juga. Hey kemana saja aku, bagaimana dengan syukurku, apa yang sudah aku berikan untuk bumi ini, sudahkah aku menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama terkhususnya bagi keluargaku sendiri, bahkan di masa tuanya kedua orang tuaku aku belum bisa membahagiakannya.
Seketika aku menyadari bahwa sebab ketidak tenanganku adalah aku yang lupa akan bersyukur, aku yang jauh dari-Nya, padahal ada banyak insan yang hidupnya jauh lebih menderita namun mereka hebat dalam bersyukur, dan hebat dalam mengisi hari harinya dengan sesuatu yang bermanfaat.
Seharusnya aku bersyukur dengan pekerjaanku, karena mungkin banyak di luaran sana yang ingin bekerja namun terhambat oleh keadaan fisik.
Baiknya aku juga memanfaatkan dengan sebaik baiknya penglihatanku, raga sehatku, karena banyak di luaran sana yang sedang di uji Allah dengan suatu penyakit.
Ya Allah kini aku tau, tak perlu aku mendatangi sungai, sawah ataupun gunung untuk mendapatkan ketenangan, tak perlu jauh jauh, karena ketenangan itu bisa di dapat di mana saja dengan cara mengingat-Mu, mendekatkan diri kepada-Mu.
Ya Allah ampuni jiwa ini yang terlalu banyak mengeluh.

Komentar
Posting Komentar