Merengkuh Lara
MERENGKUH LARA
Novialsari Izzatunnisa
Di sudut kamar
Aku termenung meratapi jiwa
Hening dan sunyi
Hanya ada dentuman jam dinding yang cukup meramaikan suasana
Aku menatap ke balik jendela
Aku rasakan angin yang menyejukkan jiwa
Aku tersenyum pelan, mengingat tangisku semalam
Tersedu-sedu meratapi luka
Terisak-isak akibat dusta
Meratap akan luka hati yang begitu parah
Termenung membayangkan kisah ini yang terasa horor, menakutkan, menyesakkan, memilukan serta menyakitkan.
Kini, aku haras bangkit meninggalkan duka lara yang menguras air mata
Karena mengikhlaskanmu, merelakanmu, kini menjadi sesuatu yang waiib aku lakukan
Pun melupakanmu adalah PR terbesar yang ingin segera aku tuntaskan.
Bandung, 11 April 2019
Novialsari Izzatunnisa
Di sudut kamar
Aku termenung meratapi jiwa
Hening dan sunyi
Hanya ada dentuman jam dinding yang cukup meramaikan suasana
Aku menatap ke balik jendela
Aku rasakan angin yang menyejukkan jiwa
Aku tersenyum pelan, mengingat tangisku semalam
Tersedu-sedu meratapi luka
Terisak-isak akibat dusta
Meratap akan luka hati yang begitu parah
Termenung membayangkan kisah ini yang terasa horor, menakutkan, menyesakkan, memilukan serta menyakitkan.
Kini, aku haras bangkit meninggalkan duka lara yang menguras air mata
Karena mengikhlaskanmu, merelakanmu, kini menjadi sesuatu yang waiib aku lakukan
Pun melupakanmu adalah PR terbesar yang ingin segera aku tuntaskan.
Bandung, 11 April 2019
Kau datang membawa senyum lalu pergi meninggalkan Luka.
BalasHapusMelepas dan mengikhlaskannya adalah cara terbaik untuk bangkit
BalasHapus