Penyesalan Seorang Anak
Penyesalan Seorang Anak
Di salah satu sudut kota Bandung, hiduplah sebuah keluarga kecil yang di karuniai satu orang anak. Anak itu bernama Bagas, ayahnya yang sehari hari ke pasar dan ibunya yang terkadang membantu pekerjaan suaminya yang berdagang di pasar.
***
Sejak SD Bagas anak yang baik, dia menjadi salah satu siswa cerdas di sekolahnya, dia pun menjadi satu satunya harapan bagi kedua orang tuanya, karena memang dia adalah anak semata wayang kedua orang tuanya. Beranjak SMP dia semakin dewasa, dia sering membantu pekerjaan orang tuanya di pasar, orang-orang pasar banyak yang mengagumi Bagas karena sikapnya yang mau membantu kedua orang tuanya.
***
Memasuki kelas 3 SMP dimana sebentar lagi akan lulus dan melanjutkan ke SMA, Bagas dan kedua orang tuanya mempunyai harapan yang besar agar Bagas bisa lulus dengan hasil yang baik, serta berharap ada rezeki untuk membiayai sekolah Bagas lanjutkan ke SMA.
***
Alhamdulillah Bagas bisa lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, ia sangat senang, begitu pun kedua orang tuanya yang juga sangat bersyukur melihat anak remajanya itu bisa lulus dengan nilai terbaik.
***
Di malam hari ketika makan bersama, kemudian Bagas menanyakan kepada kedua orang tuanya tentang kelanjutan sekolahnya.
“Pak, jadi aku mau lanjut ke sekolah mana?”
Ayah Bagas hanya bisa terdiam, belum bisa menjawab pertanyaan anaknya, karena berbeda dengan sekolah SD dan SMP, sekolah SMA cukup mahal dan itulah yang membuat kedua orang tua Bagas sedikit kebingungan.
***
orang tua Bagas bekerja keras siang malam demi melanjutkan sekolah anaknya, Alhamdulillah Bagas bisa sekolah di salah satu SMA yang tak jauh dari tempat tinggalkannya.
***
Setelah memasuki sekolah SMA Bagas sudah jarang membantu kedua orang tuanya di pasar, karena waktu belajarnya lebih lama di bandingkan SMP, apalagi Bagas cukup aktif di sekolahnya, ia aktif di berbagai organisasi, karena kesibukannya itulah orang tuanya pun memaklumi kalau Bagas sudah tidak pernah lagi membantu mereka di pasar. Tapi lama kelamaan Bagas sudah jarang pulang ke rumah, alasannya karena Bagas mengerjakan tugas di rumah temannya, karena mengerjakan tugasnya itu cukup lama, maka Bagas pun sering menginap di rumah temannya. Kedua orang tua Bagas percaya dengan alasan anaknya, karena Bagas sejak dulu adalah orang anak yang jujur.
***
Ada beberapa tetangga yang melaporkan kepada ibu Bagas kalau anakanya sering nongkrong di jalan, ayahnya pun pernah dengar dari salah satu orang di pasar kalau dia sering melihat Bagas berada di warnet ketika jam sekolah, kedua orang tua Bagas tak langsung percaya dengan kabar yang di terima, tanpa tahu langsung dari penjelasan dari sang anak. Walaupun memang ada kekhawatiran dari kedua orang tua Bagas, mereka takut kalau kabar dari orang lain itu benar, terlebih anaknya memang jarang pulang.
***
Malam itu Bagas pulang ke rumah kurang lebih jam 9 malam, ayah Bagas langsung menanyakan perihal kabar dari orang-orang mengenai Bagas. Namun ternyata anak yang selama ini lemah lembut dan sopan kepada orang tuanya kini malah kasar kepada ayahnya, Bagas tak suka jika ayahnya menanyakan perihal itu, Bagas menganggap kalau ayahnya terlalu mencampuri urusannya. Ibunya yang sedang memasak di dapur dan mendengar ada keributan di ruang tamu langsung ibunya pun segera menghampiri ke ruang tamu, sang ibu kaget melihat anaknya yang sedang marah kepada suaminya.
“Sudahlah pak, aku capek, jangan banyak tanya.” Timpal Bagas sambil bergegas masuk kamar dan mengunci diri di kamar sampai pagi.
Malam itu hati sang ibu sangatlah sedih, anaknya ternyata bisa bersikap kasar kepada ayahnya hanya gara gara ayahnya menanyakan kebenaran kabar dari orang lain, sang ibu sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan anaknya.
***
Subuh harinya yang biasa selama ini Bagas selalu bangun subuh lebih awal, namun kali ini setelah selesai azan subuh pun Bagas masih belum keluar kamar, kedua orang tuanya mencoba mengetuk pintu kamar anaknya namun tak ada suara dari dalam, sang ibu terus mengetuk dan memanggil nama anaknya agar segera bangun.
Terbukalah pintu, Bagas membukakan pintu dengan raut wajah yang kesal, Bagas kesal karena dia masih mengantuk dan belum mau bangun, sang ibu benar benar kecewa melihat sikap anak lelakinya itu.
***
Kini Bagas begitu banyak kemauan, dari mulai ingin motor, handphone, sepatu baru dan yang lain-lain, kedua orang tua Bagas sangat heran melihat anaknya yang dulu jarang minta apa-apa, tapi kini segala kemauannya harus segera di turuti, kedua orang tuanya harus bekerja keras siang malam untuk memenuhi keinginan anaknya, karena kalau tidak di penuhi maka Bagas akan marah kepada ibu dan ayahnya. Orang tua Bagas sangat sedih melihat sikap anaknya sekarang, namun sebagai orang tua mereka selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya salah satunya dengan memenuhi segala kemauan anaknya.
***
Bagas yang sedang beranjak usia dewasa ini ternyata terpengaruh dengan pergaulan yang kurang baik, ia bergaul dengan teman-teman yang kurang baik, ia terjerumus pergaulan bebas yang sudah membuat sikapnya berubah. Orang tuanya tentu sedih melihat perubahan anaknya, anak yang dari dulu di bangga banggakan dan menjadi harapan satu satunya tapi kini rasanya semua harapan itu hancur. Bagas sudah tidak mau lagi di nasihati, juga sudah sangat sulit di andalkan lagi. Kini orang tuanya sering sekali mendapatkan surat dari pihak sekolah karena ulah anaknya.
***
Kini ayahnya sakit parah, tapi di saat keadaan sang ayah sedang sakit, Bagas malah jarang pulang, ketika di suruh pulang pun Bagas justru marah-marah. Dia malah mengatakan tak mau peduli lagi sama keluarganya termasuk ayahnya. Sang ayah yang hanya bisa terbaring lemah, beliau begitu sangat merindukan kehadiran anaknya, sang ibu hanya bisa berdoa berharap suaminya sembuh dan sang anak bisa menjadi lebih baik lagi.
***
Malam itu Bagas ikut tawuran bersama kawan kawannya, tawuran yang sangat meresahkan warga, warga akhirnya melaporkan ke polisi mengenai tawuran yang sedang berlangsung, tak lama polisi datang untuk mengamankan, mengetahui polisi datang para komplotan yang sedang tawuran pun pergi untuk melarikan diri. Bagas pun langsung mengendarai motornya bersama satu orang kawannya, Bagas mengendarai motor dengan kecepatan tinggi, karena hal itulah ia terjatuh kena bebatuan. Para warga yang melihat kejadian itu langsung menghubungi polisi untuk meminta bantuan, Bagus dan kawannya langsung di bawa ke rumah sakit terdekat untuk di tangani.
***
Melihat kondisi dirinya sendiri yang kini hanya bisa berbaring, dengan kondisi fisik yang cukup parah akibat kecelakaan itu, kini di dalam hatinya Bagas menyesal atas apa yang sudah dia lakukan selama ini, dia sudah tak turut kepada orang tua, dia selalu marah-marah, begitu sering dia mengecewakan ibu dan ayahnya, kini Bagas rindu ingin bertemu ibu dan ayah, apalagi Bagas tahu kalau sang ayah dalam kondisi sakit parah, ia sangat ingin meminta maaf kepada ayah juga kepada ibunya, ia menyesal dan ia tak mau mengulangi kesalahannya lagi.
***
Dua hari Bagas di rawat sang ibu datang, sang ibu di beritahu polisi kalau anaknya sedang di rawat. Bagas menangis dan meminta maaf kepada sang ibu atas apa yang dia lakukan dan tentulah ibunya pun memaafkan. Namun begitu sangat menggores hati ketika sang ibu memberitahu bahwa ayahnya sudah meninggal kemarin siang, Bahas menangis, penyesalan menguasai hatinya, dia sangat menyesali perbuatan yang sudah dia lakukan kemarin yang tak mau pulang di saat sang ayah sedang sakit parah. Kini ia tak bisa meminta maaf langsung kepada ayahnya, Bagas tak bisa melihat lagi sosok sang ayah yang begitu sabar menghadapinya.
***
Kini ia berjanji untuk tidak mengulangi kesalahannya lagi, ia ingin berubah menjadi lebih baik lagi, dan dia berjanji untuk menjaga ibunya dan membahagiakan sang ibu, ia tak mau menyesal untuk ke sekian kalinya. Di saat sang ibu masih ada, dia akan selalu berusaha membahagiakan wanita yang sudah melahirkannya itu.

Pesan moralnya dapet.
BalasHapusKeren, Kak. Salam kenal dari Valletta 💐
Muantapss👍
BalasHapusKalau ada percakapannya bisa lebih dapet lagi feel-nya
BalasHapusSuaii. Tapi pesannya dapat kok keren;) . salam dari valetta kakak..
Hapusmemaksimalkan waktu yang ada bersama orang terkasih selagi masih bersama
BalasHapusPelajaran hidup yang menyentuh nih kak.
BalasHapusPergaulan memang bisa mengubah sifat orang, aku pernah merasakannya. Meski alurnya cepat, pesan di cerita ini tersampaikan dgn baik. Keren, Kak.
BalasHapusTerima kasih menjadi pengingat untuk diri, agar lebih berbakti kembali
BalasHapusNice ka cerpen nya,
BalasHapusBagus...bisa panjang nulisnya bener-bener luarbiasa..pesannya dapet bahasanya mudah dipahami dan mengalir
BalasHapus_from Valleters_