Wajah Tanpa Senyuman

Wajah Tanpa Senyuman

Berdinding putih, tirai-tirai yang berjejer, gadis itu menikmati langit-langit ruangan dengan mata sayu. Berwajah tenang tanpa senyuman, terpasang selang putih yang menghubungkan tangan dengan cairan yang bergantung, cairan itu yang mampu sedikit membantu kondisinya.

Arini: "Buk, aku ingin minum." terdengar suaranya begitu pelan.
Ibuk: "Ini nak, kamu minum yang banyak." Wanita paruh baya itu selalu setia menemani sang anak.
***
Beberapa tahun lalu saat Arini lulus dari sekolah SMA, ia sudah merencanakan banyak hal, dari mulai kuliah dan bekerja. Cita-citanya menjadi seorang psikologi, juga harapannya ingin travelling ke bebera tempat baik di dalam maupun di luar negeri.

Raganya yang mulai tak sekuat dulu lagi sebenarnya sudah ia rasakan sejak duduk di bangku kelas 3 SMA, dia kira ia hanya sakit biasa saja, namun sakitnya terus menerus ia rasakan.
***
Waktu itu, teman-teman yang lainnya sudah merencakan kuliah, sudah mulai mendaftar. Ada juga teman yang sudah mulai bekerja, bahkan ada beberapa yang memilih menikah muda, sedangkan Arini harus terdiam sebab sakit yang ia rasa semakin parah.

"Alhamdulillah, saya di terima di kampus ini."
"Bismillah, hari pertama kerja."
"Semoga lancar sampai hari H."
Beberapa postingan teman-temanya di sosial media.

Hatinya terasa perih, dadanya kian sesak, saat mendengar cerita dari kawan kawannya  tentang kehidupan baru mereka. Dia hanya terdiam dan tersenyum saat menyimak pengalaman yang mereka ceritakan.
***
Sunyi dan sepi, semua orang di rumahnya sudah terlelap, Arini yang dari tadi tidur dengan lelap dalam kondisi badan yang cukup panas, tiba-tiba terbangun sebab sakit yang ia rasakan. Melihat kondisi sang anak orang tuanya segera membawanya kerumah sakit.

Gelap, bintang pun tak mampu ia tatap,  di perjalanan Arini terus menerus mengeluhkan sakit.

Kejadian itu selalu terjadi dan terjadi lagi, kini satu tahun sudah ia harus berjuang melawan sakit yang ia derita. Ia pun terpaksa harus mengubur cita-citanya. Kini, hanya kesepian yang selalu menjadi teman di setiap hari-harinya, hidupnya tak seasyik dulu. Kawan lainnya sibuk dengan kegiatannya masing-masing, sedangkan Arini hanya terdiam bersama sunyi.
***
Adrean:"Aku ingin segera bertemu orangtuamu." Lelaki berbaju kaos biru itu meyakinkan Arina.
Arina:"Tapi Dre aku nih sakit." Air mata Arina tak kuasa lagi tertahan, perlahan mengalir msmbasahi wajah pucatnya.
Adrean:"Rin, kamu tidak usah khawatir, aku tidak mempermasalahkan keadaan kamu."
***
Dalam hening, bersama malam-malam yang panjang, aku terpaku dan termenung, banyak hal yang aku pikirkan, tentang kondisiku, tentang pernikahanku yang akan di laksankan satu bulan lagi, apakah aku bisa menjadi seorang istri dengan kondisiku yang seberti ini, bagaimana anak-anakku nanti, bagaimana aku mengurusnya.

Bersama gelap aku curahkan segala yang kurasa, aku yakin Tuhan tidak akan membiarkanku, meninggalkanku. Aku yakin Dia akan selalu menolongku bersama kekuasaan dari-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujian Yang Membuat Nyai Sadar

Sakinah Bersamamu

Apa Tujuan Hidup Kita?